Legenda Pulau Kemaro : Kisah Cinta Antara Siti Fatimah dan Saudagar Tionghoa

Estacurada – Salah satu destinasi wisata menarik yang ada di Palembang adalah Pulau Kemaro. Pulau ini terletak di tengah Sungai Musi. Nama Kemaro berasal dari istilah setempat yang artinya kemarau. Diberi nama demikian karena  pulau seluas 5 hektare ini belum pernah sekalipun tenggelam meskipun Sungai Musi sedang dalam kondisi pasang.

Lokasinya sangat strategis karena berada di kawasan industri, yaitu Pertamina Plaju, Pabrik Pupuk Sriwijaya, dan Sungai Gerong. Tidak heran jika kemudian masyarakat setempat menjadikan lokasi ini sebagai destinasi wisata andalan.

pulau kemaro

Selain lokasinya yang strategis, pulau ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah. Keindahan pemandangan alam sekitar Pulau Kemaro digambarkan dalam sebuah lagu berirama keroncong yang diciptakan oleh Ruslan Kamaluddin pada tahun 2014 lalu.

Hampir di setiap tempat di Indonesia memiliki mitos dan cerita legendanya masing-masing. Tidak terkecuali dengan delta kecil di Sungai Musi ini. Tempat tersebut menyimpan sebuah cerita legenda yang populer tentang legenda Tan Bun Ann dan Siti Fatimah.

Dikisahkan pada jaman dahulu, ada seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang bersuamikan seorang saudagar berdarah Tionghoa, Tan Bun Ann. Setelah melakukan prosesi pernikahan, keduanya pergi ke negeri Tiongkok dengan tujuan mengunjungi kedua orang tua Tan Bun Ann. Ketika hendak pulang kembali, Tan Bun Ann mendapatkan hadiah 7 buah guci dari orang tuanya.

Sesampainya di Sungai Musi, Tan Bun Ann membuka ketujuh guci tersebut dengan disaksikan langsung oleh istrinya. Setelah mengetahui bahwa ketujuh guci hadiah dari orang tuanya hanya berisi sawi-sawi asin, Tan Bun Ann sangat marah karena menganggap pemberian tersebut tidak pantas. Dibuanglah semua guci tersebut ke sungai.

Salah satu guci yang dibuang oleh Tan Bun Ann terbuka dan ternyata di balik sawi-sawi asin tersebut, terdapat tumpukan emas dan permata. Mengetahui hal tersebut, Tan Bun Ann sangat menyesal dan merasa bersalah. Dia menceburkan diri ke dalam sungai bermaksud menyelamatkan emas dan permata tersebut. Sayangnya, Tan Bun Ann tidak berhasil menyelamatkan emas-emas tersebut. Malah, dia mejadi korban derasnya arus Sungai Musi dan tenggelam.

Melihat tuannya tenggelam, salah seorang pengawal bermaksud menolong. Sayangnya, pengawal tersebut bernasib sama dengan Tan Bun Ann. Siti Fatimah yang melihat sendiri semua kejadian tersebut, juga ikut menceburkan diri untuk menolong suaminya. Namun, nasib buruk lebih berpihak padanya. Siti Fatimah menjadi orang ketiga yang tenggelam dan jasad ketiganya tidak pernah ditemukan.

Selang beberapa waktu setelah peristiwa tenggelamnya Tan Bun Ann, Siti Fatimah, dan seorang pengawalnya, muncul sebuah pulau di tempat tenggelamnya ketiga orang tersebut. Pulau itu yang kini begitu populer dan dikenal dengan nama Pulau Kemaro.

Uniknya, di tengah pulau tersebut terdapat 3 gundukan tanah yang mirip dengan batu karang. Hingga saat ini, ketiga gundukan batu karang tersebut dipercaya sebagai makam Tan Bun Ann, Siti Fatimah, dan pengawalnya.

Selain terdapat makam dari pasangan suami istri tersebut, Pulau Kemaro juga memiliki bangunan Klenteng dan Pagoda. Tempat ini sering dikunjungi ketika Cap Go Meh oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Buat kamu yang suka wisata sejarah, terutama wisata dengan nuansa oriental yang begitu kental, kamu wajib mengunjungi pulau ini. Tidak hanya menikmati keindahan di sekitar pulau, kamu juga bisa mengetahui kisah cinta sejati antara Tan Bun Ann dan Siti Fatimah secara langsung.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *